Merdeka Belajar
PENERAPAN KONSEP MERDEKA BELAJAR:
UPAYA MENINGKATKAN KETERAMPILAN, INOVASI DAN PRESTASI PESERTA DIDIK MELALUI PEMBELAJARAN BERDEFERENSIASI
Sriwarningsih, M.Pd
Pengawas Sekolah Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang
sri.warningsih@dinas.belajar.id
Undang-Undang
Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 Tahun 2003 mengamanatkan secara tegas
menyatakan bahwa tujuan Pendidikan Nasional adalah “Mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,
bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang
beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu,
cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab”. Mencermati isi dari Undang- Undang tersebut
maka setiap warga negara berhak
mendapatkan pelayanan pendidikan yang layak, menuju generasi yang cerdas, memiliki karakter yang berbudi pekerti. Tidak
hanya itu saja , melalui pendidikan, diharapkan dapat melahirkan hal-hal yang
inovatif, kreatif serta mencetak generasi yang mampu membawa perubahan, dan
melalui pendidikan diharapkan siswa dapat memberikan dampak bagi dirinya dan
orang-orang di sekitarnya
Selanjutnya pada pidato Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud)
Nadiem Anwar Makarim pada peringatan Hari Guru Nasional (HGN) tahun 2019 mengatakan, “Guru
Indonesia yang tercinta, tugas Anda adalah yang termulia sekaligus
tersulit. Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih
sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan. Anda ingin membantu
murid yang mengalami ketertinggalan di kelas, tetapi waktu Anda habis
mengerjakan tugas administratif tanpa manfaat yang jelas. Anda tahu betul
bahwa potensi anak tidak dapat diukur dari hasil ujian, tetapi terpaksa
mengejar angka karena didesak berbagai pemangku kepentingan. Anda ingin
mengajak murid keluar kelas untuk belajar dari dunia sekitarnya, tetapi
kurikulum yang begitu padat menutup petualangan. Anda frustasi karena Anda
tahu bahwa di dunia nyata kemampuan berkarya dan berkolaborasi akan menentukan
kesuksesan anak, bukan kemampuan menghapal. Anda tahu bahwa setiap anak
memiliki kebutuhan berbeda, tetapi keseragaman telah mengalahkan keberagaman
sebagai prinsip dasar birokrasi. Anda ingin setiap murid terinspirasi,
tetapi Anda tidak diberi kepercayaan untuk berinovasi.” - (https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/11/pidato-mendikbud).
Isi dari
pidato tersebut secara jelas dan tegas mengatakan bahwa tugas guru adalah
tugas mulia dan tersulit, dan ini adalah tantangan terbesar bagi para
kaum pendidik, tetapi tidak selamanya tantangan menjadi suatu hambatan,
tantangan memaksa dan mengharuskan guru untuk segera mengasah kemampuannya,
berinovasi untuk melawan tantangan itu menjadi suatu hal yang positif. Guru merupakan garda terdepan dalam mencerdaskan
anak bangsa maka oleh sebab itu guru harus merdeka dalam melayani peserta
didiknya dan peserta didik juga jauh lebih merdeka untuk dapat mengembangkan
kreatifitasnya, berinovasi sesuai minat bakatnya sehingga menjadi insan yang mandiri.
Supaya lebih
memahami bagaimana penerapan konsep merdeka belajar, maka terlebih dahulu perlu
dipahami konsep merdeka belajar. Secara teoritis berdasarkan terminologi arti
kata “Merdeka” dan konsep “Belajar” itu sendiri. Menurut Kamus Besar
Bahasa Indonesia (KBBI), kata Merdeka memiliki tiga pengertian: (1) bebas (dari
perhambatan, penjajahan dan sebagainya), berdiri sendiri; (2) tidak terkena
atau lepas dari tuntutan; (3) tidak terikat, tidak oleh tergantung kepada orang
atau pihak tertentu.
Adapun konsep
“Belajar” menurut Sagala (2006), dapat dipahami sebagai usaha atau
berlatih supaya mendapatkan suatu kepandaian, Sedangkan menurut Sudjana (2013), belajar bukan semata
kegiatan menghafal dan bukan mengingat. Belajar adalah; (1) suatu proses yang
ditandai dengan adanya perubahan pada diri seseorang, dapat ditunjukkan seperti
berubah pengetahuannya, pemahamannya, sikap dan tingkah lakunya,
keterampilannya, kecakapan, dan kemampuannya, daya reaksinya, daya
penerimaannya dan lain-lain aspek yang ada ada individu; (2) belajar adalah
proses aktif, proses berbuat melalui berbagai pengalaman; (3) belajar adalah proses
mereaksi terhadap semua situasi yang ada di sekitar individu; (4) Belajar
adalah proses yang diarahkan kepada tujuan; dan (5) Belajar adalah proses
melihat, mengamati, memahami sesuatu. Jadi apabila kita berbicara tentang
belajar, maka prinsipnya berbicara bagaimana mengubah tingkah laku seseorang,
jadi dapat diartikan bahwa “Merdeka
belajar” merupakan salah satu bentuk implementasi nilai-nilai pembentuk
karakter bangsa dimulai dari pembenahan
sistem pendidikan dan metode pembelajaran, model pembelajaran maupun strategi pembelajaran yang digunakan
guru di dalam kelas.
Impelementasi dan bagaimana
penerapan konsep merdeka belajar itu?
Inilah yang menjadi tantangan para guru disekolah-sekolah untuk merubah pola pembelajaran. Guru diberi
kebebasan dalam merancang proses pembelajaran maupun melaksanakannya, serta
pelaksanaan evaluasi, yang tidak kaku dan tidak terpaku pada standar kurikulum
yang ditetapkan pemerintah. Selama ini guru mendesain pembelajaran dibuat
sangat detail, setiap langkah dari awal sampai akhir pembelajaran ditulis
secara jelas, termasuk sumber dan instrumen penilaiannya. Memang sempurna,
sangat lengkap untuk persiapan pembelajaran, namun kenyataannya rencana
pembelajaran selengkap yang sesungguhnya adalah tergantung dari situasi dan kondisi di kelas, upaya guru menciptakan
lingkungan belajar dimana peserta didik bebas untuk berekspresi, tanpa ada tekanan
psikologis sesuai dengan konsep “Merdeka Belajar” itu jauh lebih penting, guru dengan memiliki
kebebasan tersebut akan lebih fokus untuk memaksimalkan proses pembelajaran
guna mencapai tujuan (goal oriented) pendidikan nasional,
namun tetap dalam rambu-rambu kaidah kurikulum. Guru harus mampu membangun
pembelajaran yang berpusat kepada peserta didik (Student centered learning).
Menurut
Hosnan (2016:72), Student centered learning menuntut adanya partisipasi yang tinggi dari
peserta didik, karena peserta didik menjadi pusat perhatian selama kegiatan
proses pembelajaran berlangsung. Siswa bebas untuk berekspresi selama menempuh
proses pembelajaran di sekolah, namun tetap mengikuti kaidah aturan yang ada di
sekolah. SCL merupakan strategi pembelajaran yang menempatkan peserta didik
sebagai subyek aktif dan mandiri, dengan kondisi psikologis sebagai adult Learner, bertanggunag jawab
sepenuhnya atas pembelajarannya mampu belajar beyond the classroom , kelak peserta didik diharapkan memiliki dan
menghayati karakteristik life-long
learning yang mampu menguasai hard
skill, soft skills, dan life skills yang salin mendukung dan dilain sisi
guru beralih fungsi , dari pengajar menjadi mitra pembelajaran maupun sebagai
fasilitator.
Siswa bisa
mandiri karena banyak belajar dari pengalamannya sendiri, hasil dari proses
pembelajaran peserta didik berubah menjadi
pengetahuan, pemahaman, sikap/karakter, tingkah laku, keterampilan, pengalaman dan
daya reaksinya dalam menemukan jatidiri dan kemandiriannya. Merdeka belajar memberikan keleluasaan
kepada guru untuk melakukan implementasi pembelajaran yang merdeka, bebas
membelajarkan peserta didik namun bertanggung jawab, sesuai dengan rambu-rambu
pembelajaran.
Selama ini yang selalu menjadi
permasalahan peserta didik dalam belajar adalah peserta didik merasa bosan dan belum dapat memahami
keterkaitan antara ilmu yang dipelajari dengan konteks kehidupan sehari-hari.
Hal ini mungkin dikarenakan kegiatan pembelajaran yang kita lakukan dikelas
masih sering bersifat textbook oriented
dan kurang dikaitkan dengan lingkungan peserta didik serta kebutuhannya. Kegiatan
dikelas dengan metode ceramah dilanjutkan dengan berbagai macam tugas latihan
soal dapat membuat peserta didik merasa
bosan, jenuh dan motivasi belajarnya
menurun. Untuk mengatasi masalah tersebut, salah satu usaha yang dapat
dilakukan oleh pendidik adalah dengan menerapkan pola pembelajaran dengan
teknik bervariasi.
Sebelum menetukan metode pembelajaran
maupun model pembelajaran yang tepat
untuk digunakan disuatu kelas dengan berbagai karakteristik peserta didik maka langkah pertama yang harus diklakukan
oleh guru adalah mengidentifikasi karakteristik dan membuat profil belajar peserta didik. Upaya
yang dapat dilakukan guru untuk meningkatkan keterampilan inovasi serta
prestasi peserta didik adalah dengan
cara mendesain pembelajaran dengan konsep merdeka belajar guru harus
mampu mendesain pembelajaran yang dapat mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik di kelas yang
menjadi tanggung jawabnya sebagai guru.
Apa saja yang harus dilakukan guru dalam
mengakomodir kebutuhan belajar peserta didik? adalah sebagai berikut:
1)
Melakukan
pemetaan kebutuhan belajar berdasarkan tiga aspek, yaitu: kesiapan belajar,
minat belajar, dan profil belajarpeserta didik (bisa dilakukan melalui
wawancara, observasi, atau survey menggunakan angket, dll)
2)
Merencanakan
pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan hasil pemetaan (memberikan berbagai
pilihan baik dari strategi, materi, maupun cara belajar)
3)
Mengevaluasi
dan refleksi pembelajaran yang sudah berlangsung.
Pemetaan kebutuhan belajar merupakan kunci pokok untuk dapat menentukan
langkah selanjutnya. Lakukan pemetaan dengan tepat karena jika hasil pemetaan
kita tidak akurat maka rencana pembelajaran dan tindakan yang kita buat dan
lakukan akan menjadi kurang tepat sasaran. Untuk memetakan kebutuhan belajar
pesreta didik kita juga memerlukan data
yang akurat baik dari murid, orang tua/wali, maupun dari lingkungannya. Apalagi
dimasa pandemi seperti ini, dimana murid melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh
(PJJ) sehingga interaksi secara langsung antara guru dengan peserta didik
sangat jarang. Akibatnya data yang kita kumpulkan untuk memetakan kebutuhan
belajar murid sulit kita tentukan valid atau tidaknya. Dukungan dari orang tua,
teman dan murid itu sendiri sangat membantu mendapatkan data yang lengkap dan
benar sesuai kenyataan yang ada, tidak ditambahi dan juga tidak dikurangi.
Orang tua dan murid harus jujur ketika guru melakukan pemetaan kebutuhan
belajar, baik melalui wawancara, angket, survey, dll.
Salah satu bentuk model
pembelajaran yang ditawarkan pemerintah dalam program guru penggerak dalam
konsep merdeka belajar untuk menggapai profil pelajar pancasila adalah
pembelajaran berdeferensiasi. Pembelajaran berdiferensiasi
merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan murid,
terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh
setiap individu. Keberagaman dari setiap individu peserta didik harus selalu diutamakan dalam pembelajaran,
karena setiap peserta didik tumbuh di lingkungan dan budaya yang berbeda sesuai
dengan kondisi geografis tempat tinggal mereka.
Menurut Marlina,
(2019:3) Pembelajaran Berdeferensiasi merupakan
penyesuaian terhadap minat,
preferensi belajar, kesiapan
siswa agar tercapai
peningkatan hasil belajar.
Pembelajaran Berdeferensiasi bukanlah
pembelajaran yang diindividualkan. Namun, lebih cenderung
kepada pembelajaran yang mengakomodir kekuatan
dan kebutuhan belajar
siswa dengan strategi
pembelajaran yang independen.
Saat guru merespon kebutuhan
belajar siswa, berarti
guru mendiferensiasikan
pembelajaran dengan menambah, memperluas, menyesuaikan waktu
untuk memperoleh hasil
belajar yang maksimal.
Selanjutnya
menurut Marlina Pembelajaran berdiferensiasi pada hakikatnya pembelajaran yang memandang bahwa peserta
didik itu berbeda dan dinamis.
Karena itu, sekolah
harus memiliki perencanaan tentang pembelajaran berdiferensiasi, antara lain:
1)
Mengkaji kurikulum saat ini
yang sesuai dengan kekuatan dan kelemahan siswa.
2)
Merancang perencanaan dan strategi sekolah
yang sesuai dengan
kurikulum dan metode
pembelajaran yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan
siswa.
3)
Menjelaskan bentuk dukungan guru dalam memenuhi
kebutuhan siswa.
4)
Mengkaji dan menilai pencapaian rencana sekolah secara berkala.
Pembelajaran dilakukan
dengan beragam cara untuk memahami informasi baru bagi semua murid dalam
komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk: mendapatkan
konten; mengolah, membangun, atau menalar gagasan; dan mengembangkan produk pembelajaran
dan ukuran evaluasi sehingga semua murid di dalam suatu ruang kelas yang
memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif dan
saling menghargai satu sama lain dalam satu tim. Selain itu juga memastikan
setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di
sepanjang prosesnya. Strategi Pembelajaran berdiferensiasi ada 3 yaitu:
diferensiasi konten, diferensiasi proses, dan diferensiasi produk.
1) Diferensiasi konten
Diferensiasi
Konten merupakan materi atau informasi apa yang akan diajarkan kepada peserta
didik. Konten dapat dibedakan sebagai tanggapan terhadap kesiapan, minat, dan
profil belajar siswa maupun kombinasi dari ketiganya. Guru perlu menyediakan
bahan dan alat atau materi dan media pembelajaran tepat dengan kebutuhan
belajar siswa.
2)
Diferensiasi proses
Bagaimana
siswa dapat memahami atau memaknai apa yang telah dipelajari. Diferensiasi
proses bisa dilakukan dengan cara menggunakan kegiatan berjenjang atau bertahap,
meyediakan pertanyaan pemandu atau challenge
yang perlu diselesaikan di sudut-sudut minat, membuat agenda
individual untuk siswa (daftar tugas, memberikan waktu lama atau durasi yang
peserta didik dapat ambil untuk menyelesaikan tugas), mengembangkan kegiatan
yang beragam dan tidak monoton.
3) Diferensiasi
produk
Diferensiasi
produk menampilkan dan mendemonstrasikan
hasil pekerjaan siswa kepada guru, produk tersebut berupa project atau bisa berupa karangan,
pidato, rekaman, diagram atau sesuatu yang ada wujudnya. Produk yang diberikan
meliputi 2 hal yaitu memberikan challenge dan keragaman atau variasi.
Serta memberikan peserta didik pilihan
bagaimana mereka dapat mengekspresikan pembelajaran yang diinginkan.
Tujuan
Pembelajaran Berdeferensiasi :
1)
Untuk membantu semua siswa dalam belajar.
Agar guru bisa meningkatkan kesadaran terhadap kemampuan siswa,
sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai oleh seluruh siswa.
2)
Untuk meningkatkan motivasi
dan hasil belajar siswa.
Agar siswa memperoleh hasil belajar yang sesuai dengan tingkat kesulitan materi yang diberikan guru. Jika siswa
dibelajarkan sesuai dengan kemampuannya maka motivasi belajar siswa meningkat.
3)
Untuk menjalin hubungan
yang harmonis guru dan siswa. Pembelajaran berdiferensiasi meningkatkan relasi yang kuat antara guru dan siswa sehingga
siswa semangat untuk belajar.
4)
Untuk membantu siswa menjadi pelajar yang mandiri.
Jika siswa dibelajarkan secara
mandiri, maka siswa terbiasa dan menghargai keberagaman.
5)
Untuk meningkatkan kepuasan guru.
Jika guru menerapkan pembelajaran berdiferensiasi, maka guru
merasa tertantang untuk mengembangkan kemampuan mengajarnya sehingga guru menjadi kreatif.
Pembelajaran berdiferensiasi
adalah pembelajaran yang memberi keleluasaan pada siswa untuk meningkatkan
potensi dirinya sesuai dengan kesiapan belajar, minat, dan profil belajar siswa
tersebut. Pembelajaran berdiferensiasi
tidak hanya berfokus pada produk pembelajaran, tapi juga fokus pada proses dan
konten/materi. Metode ini dapat diterapkan hampir pada semua mata pelajaran.
Penerapan pembelajaran
berdiferensiasi akan memberikan dampak bagi sekolah, kelas, dan terutama kepada
peserta didik. Setiap murid memiliki karakteristik yang berbeda-beda, tidak
semua murid bisa kita beri perlakuan yang sama. Jika kita tidak memberikan
pelayanan sesuai dengan kebutuhan murid maka hal tersebut dapat menghambat
murid untuk bisa maju dan berkembang belajarnya. Dampak dari kelas yang
menerapkan pembelajaran berdiferensiasi antara lain; setiap orang merasa
disambut dengan baik, murid dengan berbagai karakteristik merasa dihargai,
merasa aman, ada harapan bagi pertumbuhan, guru mengajar untuk mencapai
kesuksesan, ada keadilan dalam bentuk nyata, guru dan murid berkolaborasi,
kebutuhan belajar murid terfasilitasi dan terlayani dengan baik. Dari beberapa
dampak tersebut diharapkan mampu meningkatkan keterampilan menumbuhkan
kepercayaan diri untuk terus berinovasi sehingga terwujud hasil belajar dan
prestasi belajar peserta didik secara
optimal.
DAFTAR
PUSTAKA
https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/merdeka-belajar
(https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2019/11/pidato-mendikbud)
https://ejournal.undiksha.ac.id/index.php/JFI/article/view/24525
https://ayoguruberbagi.kemdikbud.go.id/artikel/stategi-pelaksanaan-pembelajaran-berdiferensiasi/
https://www.pintar.tanotofoundation.org/belajar-diferensiasi-solusi-menajamkan-potensi-siswa/
Dwiarso, Priyo. (2010). Napak Tilas
Ajaran Ki Hadjar Dewantara.Yogyakarta: Majelis Luhur Pesatuan.
Kemendikbud. (2019). “Merdeka
Belajar: Pokok-Pokok Kebijakan Merdeka Belajar”. Jakarta: Makalah Rapat Koordinasi
Kepala Dinas Pendidikan Seluruh Indonesia.
Marlina, (2019, )Panduan Pelaksanaan Model Pembelajaran Berdiferensiasi Di Sekolah
Inklusif. Padang: UNP
R. Suyato
Kusumaryono (2020)- Staf
Bagian Hukum, Tata Laksana, dan Kepegawaian, Setditjen Guru dan Tenaga
Kependidikan, Kemendikbud.
Sekretariat GTK.(2019, November 25). Mengenal Konsep Merdeka Belajar dan
Guru Penggerak. Direktorat Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan. Diakses dari https://gtk.kemdikbud.go.id/read-news/mengenal-konsep-merdeka-belajar-dan-guru-penggerak
Komentar
Posting Komentar